some tought :)



apakah kalian pernah bertanya seperti ini kepada diri kalian sendiri? "kenapa yah, dikasih ujian tahun ini sama persis dengan yang sudah terlewati? apa iya masih ada yang benci dengan diri ini? bukankan aku yang ada di posisi benar pada saat itu?"

hmm... no. no. no.

kurangin deh tingkat kepedean itu.

kita sering berpikir untuk berusaha memafkan kesalahan seseorang walau rasanya sangat pahit. yes, that's right. but still minus something to do.

coba pikirin juga apakah dia membenci balik diri kita? bagaimana kalau iya? dan dia akan selalu merasa benci sampai kita benar benar meminta maaf secara langsung di hadapan dia.

loh loh loh.. ngga dong. kan dia yang salah. wajar kalau aku yg lebih benci dia, dan dia ngga seharusnya benci sama aku.


nah inget yah, benci bukan tentang siapa yang salah siapa yang benar. tapi benci murni representasi dari perasaan yang timbul pada saat itu. dan rasanya ngga salah juga kok kalau memiliki perasaan benci walau dalam posisi yang salah. tandanya itu manusia normal. terlepas dari dia mau meneruskan rasa itu atau tidak.

pokoknya poinnya adalah, jangan takabur merasa kita lah yang pahlawannya karena sudah berbesar hati memaafkan seseorang. boleh jadi selama ini ujian yang kita terima bak replay vidio lama adalah sebagai pengingat kalau masih ada yang terluka dan menunggu kita hadir untuk sekedar menyapa "hei gue minta maaf ya kalo selama ini ada salah" 

tulisan ini disponsori oleh diri yang sedang gundah gulana saat sedang membalas chat watsapp yang menumpuk.

tangerang, 30 desember 2020

Komentar